Metode Penemuan Terbimbing

Menurut Suryosubroto (2009:140), metode adalah cara, yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Metode pembelajaran merupakan proses atau prosedur yang digunakan oleh guru atau instruktur untuk mencapai tujuan atau kompetensi (Pribadi, 2009:42).

Terkait dengan metode pembelajaran, menurut Setiawan (2010:4), metode mengajar adalah cara mengajar secara umum yang dapat ditetapkan pada semua mata pelajaran. Sedangkan menurut Surakhmad dalam Suryosubroto (2009:140), metode pengajaran adalah cara-cara pelaksanaan daripada proses pengajaran, atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada murid-murid disekolah.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa, metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh guru dalam membelajarkan suatu materi kepada siswa di kelasnya untuk mencapai tujuan dari pembelajaran tersebut.

Pemilihan metode pembelajaran perlu didasarkan pada kesesuaian dengan tugas dan tujuan pembelajaran yang akan ditempuh oleh siswa. Pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat dipilih untuk digunakan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Menurut Pribadi (2009:42), setiap metode memiliki ciri khas tersendiri yang penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Ragam metode pembelajaran yang dapat digunakan salah satunya adalah metode penemuan.

Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund dalam (Suryosubroto, 2009:179), discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses mental itu misalnya : mengamati, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya.

Sedangakan menurut Jerome Bruner (dalam Markaban, 2008:9), penemuan adalah suatu proses. Proses penemuan dapat menjadi kemampuan umum melalui latihan pemecahan masalah, praktek membentuk dan menguji hipotesis. Dengan demikian didalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan.

Menurut Setiawan (2010:32), di dalam metode penemuan ini, ada dua macam yakni metode penemuan murni dan metode penemuan terbimbing. Pada metode penemuan murni, masalah yang akan ditemukan semata-mata ditentukan oleh siswa. Begitu pula jalannya penemuan. Jelas bahwa metode ini kurang tepat untuk siswa sekolah lanjutan/menengah, karena jika setiap konsep atau prinsip dalam materi dari hasil pengembangan silabus harus dipelajari dengan cara ini, kita kekurangan waktu dan tidak banyak matematika yang dapat dipelajari siswa.

Mengingat hal-hal di atas, muncullah metode mengajar yang kita kenal dengan nama metode penemuan terbimbing. Menurut Setiawan (2010:32), metode penemuan terbimbing sebagai suatu metode mengajar yang bermanfaat untuk pembelajaran matematika. Didalam metode ini siswa didorong untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum, berdasarkan bahan yang difasilitasi oleh guru. Sampai seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan pada materi yang dipelajari.

 

Adapun peranan siswa dan guru di dalam metode penemuan  menurut Setiawan (2010:33) adalah sebagai berikut :

Metode Peranan Guru Peranan Siswa
Penemuan Murni - Sebagai sumber

- Tidak berbuat

Mendefinisikan, memecahkan masalah
Sedikit Bimbingan Menyatakan persoalan Menemukan pemecahan
Banyak Bimbingan - Menyatakan persoalan

- Memberikan bimbngan

Mengikuti petunjuk

Menemukan penyelesaian

 

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa, metode penemuan terbimbing adalah suatu metode pembelajaran yang dalam pelaksanaannya guru memperkenankan siswanya untuk berpikir sendiri sehingga dapat menemukan prinsip umum yang diinginkan dengan bimbingan dan petunjuk dari guru.

Salah satu bahan, berupa fasilitas oleh guru yang akan membimbing siswa dalam proses penemuan terhadap konsep-konsep, rumus dari materi yang diajarkan adalah lembar kerja siswa (LKS).

Menurut Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa (2002:656), lembar kerja siswa (LKS) adalah bagian pokok dari suatu modul yang berisi tujuan umum topik yang dibahas dan disertai soal latihan atau instruksi praktik bagi siswa. LKS digunakan untuk menuntun siswa belajar mandiri dan dapat menarik kesimpulan pokok bahasan yang diajarkan. Penyajian bahan pelajaran umumnya dapat mendorong siswa mengembangkan kreativitas dalam belajar. Dengan demikian mampu mendorong siswa secara aktif mengembangkan dan menerapkan kemampuannya.

Adapun Tujuan dan manfaat menggunakan media belajar LKS adalah sebagai berikut :

1)      Mengaktifkan peserta didik dalam mengembangkan konsep.

2)      Mengaktifkan peseta didik dalam proses belajar mengajar.

3)      Melatih peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan ketrampilan proses.

4)      Membantu guru dalam menyusun rencana pembelajaran.

5)      Sebagai pedoman guru dan peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

6)      Membantu peserta didik memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar mengajar.

7)      Membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang

dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis.

Dengan menggunakan lembar kerja siswa (LKS) ini, diharapkan siswa akan terbimbing dalam proses penemuan terhadap konsep-konsep, rumus dari materi yang diajarkan.

Terkait dengan metode penemuan terbimbing, menurut Setiawan (2010:34), pada penerapan metode ini  dalam pembelajaran matematika, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Adapun hal-hal yang dimaksud adalah sebagai berikut :

1)      Siswa memerlukan tambahan bimbingan bila penemuan sama sekali baru bagi mereka. Yang perlu ditekankan ialah bagaimana “mereka tidak sangat tergantung” pada guru.

2)      Gunakan pertanyaan pengarahan yang baik, bila anda menemui konjektur salah. Jangan sekedar “Tidak!” “Bukan itu!” “Salah!”.

3)      Siapkan tugas lanjutan bagi yang terdahulu menemukan, sehingga ia (kelompoknya) tidak melupakan penemuan, atau tidak membantu kelompok lain.

4)      Yakinkan bahwa induksi tidak terjamin 100% kebenaran konjektur.

5)      Verbalisasi penemuan serahkan kepada siswa.

6)      Seringkali penemuan terbimbing dikaitkan dengan lembar kerja siswa, namun ini bukan suatu keharusan. Dan bila menggunakan lembar kegiatan siswa harus dirancang agar mengarah ketujuan.

2.3.1 Kelebihan dan Kekurangan Metode Penemuan Terbimbing

Metode penemuan terbimbing sebagai metode mengajar yang bermanfaat untuk pembelajaran matematika memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Widdiharto (2004:6), kelebihan dan kekurangan metode penemuan terbimbing adalah sebagai berikut :

1)      Kelebihan

a.       Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.

b.      Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan)

c.       Mendukung kemampuan problem solving siswa.

d.      Memberikan wahana interaksi anatara siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

e.       Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan tahan lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya.

2)      Kekurangan

a.       Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.

b.      Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan metode ceramah.

c.       Tidak semua topik cocok disampaikan dengan metode ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangakan dengan metode penemuan terbimbing.

2.3.2 Langkah-langkah pembelajaran matematika menggunakan metode penemuan terbimbing

Menurut Setiawan (2010:33), urutan langkah-langkah didalam pembelajaran matematika dengan pendekatan penemuan terbimbing adalah sebagai berikut :

1)      Guru merumuskan masalah yang akan dihadapkan kepada siswa, dengan data secukupnya. Perumusan harus jelas, dalam arti tidak menimbulkan salah tafsir, sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.

2)      Dari data yang diberikan, siswa menyusun, memproses, mengorganisasikan dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang tepat. Misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan atau LKS. Kuranglah tepat bila guru memberi infofrmasi sebanyak-banyaknya sekaliigus.

3)      Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.

4)      Bila perlu konjektur di atas diperiksa oleh guru. Ini perlu dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa.

5)      Bila telah diperoleh kepastian kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: